Assalamualaikum :) This is my journal, my activities and experiences, as well as writing science.

Rabu, 07 Juni 2017

Posted by Saras Gusvita on 21.17 with No comments


Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam membuat keputusan yang bijaksana dan dalam penyesuaian diri serta dalam memecahkan masalah. Tujuan dari bimbingan yaitu.
  • agar penerima bantuan dapat berkembang mandiri dan mampu bertanggungjawab bagi dirinya sendiri. 
  • mengembangkan potensi individu untuk mampu memecahkan masalah-masalah nya dan membuat penyesuaian diri terhadap kehidupannya, sejauh batas kemampuannya.  
  • Bantuan untuk membuat keputusan yang bijaksana mengenai pilihan.

Sedangkan konseling merupakan proses bantuan yang diberikan oleh konselor untuk memecahkan masalah-masalah pribadi. Konseling merupakan layanan utama pada bimbingan,

Perbedaan antara bimbingan dan konseling adalah bimbingan bertujuan untuk membantu seseorang dalam mencapai tahap maksimal/optimal sesuai potensi dan nilai yang ada, sedangkan konseling untuk membantu individu agar mampu mengembangkan diri dan mengatasi masalah melalui tatap muka atau media baik secara individu maupun kelompok.

Bimbingan Konseling di Sekolah  
Bimbingan konseling di sekolah merupakan pelayanan khusus yang terorganisasi sebagai bagian integral dari suatu lingkungan sekolah, yang tugasnya meningkatkan perkembangan siswa dan membantu siswa ke arah penyesuaian yang adekuat dan pencapaian prestasi belajar yang maksimal sesuai dengan potensi mereka masing-masing.  Bimbingan konseling di sekolah adalah salah satu program bantuan sekolah untuk siswanya dalam mencapai perkembangan yang optimal.

Kebutuhan akan bimbingan konseling di sekolah, yaitu.
  • pada saat keputusan untuk menentukan pilihan harus dilaksanakan. 
  • untuk membantu individu memahami dan menerima situasi tanpa pilihan ini. 
  • pada saat individu tidak sadar bahwa ia memiliki pilihan lain. 
  • pada saat individu dalam keadaan tidak optimal untuk  membuat keputusan.
Ragam bimbingan menurut masalah, antara lain.
  1. Bimbingan akademik, yaitu pemecahan masalah akademik seperti cara belajar, pemilihan jurusan, dan pengenalan kurikulum 
  2. Bimbingan sosial, yaitu memecahkan masalah sosial seperti hubungan sesama teman, hubungun dengan guru dan staf, pemahaman sifat, penyesuaian lingkungan pendidikan dan masyarakat dan penyelesaian konflik. 
  3. Bimbingan karir, yaitu membantu individu dalam perencanaan, pengembangan dan pemecahan terhadap jabatan, tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan karir, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan masalah karir yang dihadapi.
Terdapat tujuh fungsi bimbingan dan konseling, sebagai berikut.
  • Pemahaman, fungsi bimbingan dan konseling yang membantu siswa memahami potensi yang dimiliki. 
  • Preventif, fungsi yang berkaitan dengan pencegahan mengantisipasi masalah dan berusaha untuk mencegahnya. 
  • Pengembangan, fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat lebih proaktif dan berupaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. 
  • Perbaikan, fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu memperbaiki keliru dalam berfikir, bertindak atau berperasaan.
  •  Penyaluran, fungsi yang membantu siswa dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler atau kegiatan-kegiatan yang diharapkan. 
  • Adapatasi, fungsi yang membantu para guru/kepala sekolah untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap kebutuhan yang dibutubhkan siswa 
  • Penyesuaian, fungsi yang membantu siswa agar dapat mnyesuaikan diri dengan diri dan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
Prinsip-prinsip Bimbingan
  1. Bimbingan diperuntukkan bagi semua individu baik bermasalah maupun tidak. 
  2. Bimbingan bersifat individualisasi yang memandang setiap individu itu unik. 
  3. Bimbingan menekankan hal yang positif yang membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. 
  4. Bimbingan merupakan usaha bersama antara konselor, guru-guru, dan kepala sekolah saling bekerjasama. 
  5. Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan. 
  6. Bimbingan berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan dimana bimbingan tidak hanya dapat berlangsung di sekolah. 
Jenis Layanan Bimbingan
  1. Pelayanan pengumpulan data tentang siswa dan lingkungannya sebagai usaha untuk mengetahui diri individu seluas-luasnya dan latar belakangnya. 
  2. Penyajian informasi yang menyajikan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yang diperlukan individu. 
  3. Konseling merupakan layanan terpenting dalam program bimbingan yang menfasilitasi individu memperoleh bantuan pribadi secara langsung. 
  4. Penempatan dan tindak lanjut  (khusus untuk alumni), pilihan kegiatan ekstrakurikuler, pilihan program studi pilihan sekolah lanjutan .
Asas Bimbingan Konseling dan Kualitas Pribadi Konselor
Asas Bimbingan Konseling
Karakteristik Kualitas Pribadi Konselor
rahasia
pemahaman diri (mengetahui masalah yang harus diselesaikan)
sukarela
kompeten
terbuka
kesehatan psikologis yang baik
mandiri
dapat dipercaya
dinamis
jujur
terpadu
bersikap hangat
harmonis
aktif, sabar dan peka

Pendekatan Bimbingan dan Konseling
Pendekatan Krisis, membantu individu yang datang sesuai dengan masalah yang dihadapinya dengan lebih menggunakan pendekatan psikoanalisa.
Pendekatan Remedial, membantu memperbaiki kesulitan dan kelemahan individu dengan lebih menggunakan pendekatan behavioristik.
Pendekatan Preventif, mengajarkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencegah dan mengantisipasi masalah.
Pendekatan Perkembangan, menggunakan teknik pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial, dan konseling.
Posted by Saras Gusvita on 21.08 with No comments

Mengapa Kelas Perlu Dikelola Secara Efektif?
Manajemen kelas merupakan kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar efektik di dalam kelas. Manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid.

Hal-hal yang berkaitan dengan manajemen kelas.
  • Membuat kelas sebagai tempat belajar 
  • Menciptakan proses belajar yang efektif di dalam kelas 
  • Menciptakan suasana kelas yang kondusif untuk terjadinya proses belajar 
  • Selalu berusaha agar siswa benar-benar aktif belajar.
  •  Mengupayakan sarana-sarana yang membantu proses belajar menjadi lebih efektif dan efisien
Tujuan Manajemen/Pengelolaan Kelas

  1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelass baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kel belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin 
  2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar yang efektif 
  3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perlengakapan yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar lebih efektif 
  4. Membina dan membimbing sesuai latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individu.

Pandangan mengenai manajemen/pengelolaan kelas
Pandangan Lama
  • Menekankan pada penciptaan dan pengalikasian aturan untuk mengontrol siswa. 
  • Mengorientasi siswa pada sikap pasif dan patuh pada aturan ketat yang dapat menyebabkan melemahkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran efektif.
  •  Guru sebagai model pengatur

Pandangan Baru
  • Fokus pada kebutuhan murid untuk mengembangkan hubungan dan kesempatan untuk menata diri 
  • Menekankan pada bimbingan siswa lebih disiplin dan tidak menekankan pada aturan ketatGuru dianggap sebagai pemandu, koordinator dan fasilitator

Prinsip Penataan Kelas
Empat prinsip dalam menata kelas, yaitu
  • Kurangi kepadatan di tempat lalu-lalang. Gangguan dapat terjadi di tempat yang sering dilewati, seperti meja guru, meja belajar kelompok, rak buku. 
  • Pastikan bahwa guru dapat dengan mudah melihat semua murid. pastikan jarak pandang yang jelas dari meja guru ke meja murid. 
  • Materi pengajaran dan perlengkapan murid harus mudah diakses. Akan meminimalkan waktu persiapan dan mengurangi kelambatan serta gangguan lainnya. 
  • Pastikan murid dengan mudah melihat semua presentasi kelas.
Gaya Penataan  Kelas
  1. Gaya auditorum, gaya susunan kelas di mana semua murid duduk menghadap guru. 
  2. Gaya tatap muka, gaya susunan kelas di mana murid saling menghadap. 
  3. Gaya off-set, gaya susunan kelas di maan sejumlah murid (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku, tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain. 
  4. Gaya seminar, gaya susunan kelas di mana sejumlah besar murid (sepuluh atau lebih) duduk di susunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk huruf U. 
  5. Gaya klaster, gaya susunan kelas di mana sejumlah murid (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil.
Strategi dalam Manajemen Kelas
  • Mendesain lingkungan fisik kelas untuk pembelajaran yang optimal 
  • Menciptakan lingkungan kelas yang positif dan baik untuk pembelajaran 
  • Membangun dan menegakkan aturan 
  • Mengajak murid untuk bekerja sama 
  • Mengatasi problem secara efektif 
  • Menggunakan strategi komunikasi
Dampak Manajemen Kelas Bagi Siswa dan Guru
Dampak Bagi Siswa
  1. Mendorong siswa mengembangkan rasa tanggung jawab individu terhadap tingkah laku serta sadar akan mengendalikan dirinya. 
  2. Membantu siswa menampilkan tingkah laku sesuai dengan tata tertib kelas dan merasakan teguran guru itu sebagai peringatan bukan kemarahan. 
  3. Menimbulkan rasa kewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku sesuai dengan aktivitas kelas.
Dampak Bagi Guru
  1. Mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam memelihara penyajian dan langkah-langkah pelajaran secara tepat dan baik. 
  2. Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa dan mengembangkan kompetisi diri dalam memberikan pengarahan yang jelas kepada siswa 
  3. Memberikan respon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang menimbulkan gangguan dalam proses belajar mengajar.
Posted by Saras Gusvita on 20.57 with No comments

SIFAT TES STANDAR ATAU UJIAN YANG DIBAKUKAN
Apa Itu Tes Standar?
Tes standar atau tes yang dibakukan mengandung prosedur yang seragam untuk menentukan nilai dan administrasinya. Tes standar digunakan untuk membandingkan kemampuan murid dengan murid lain pada usia dan level yang sama. Perbedaan mengenai soal tes dari guru dan tes standar, adalah soal tes buatan guru cenderung difokuskan pada tujuan instruksional untuk kelas tertenu, sedangkan tes standar mengenai berbagai materi yang biasanya diajarkan pada kebanyakan kelas.

Tujuan Tes Standar
  • Tujuan tes standar digunakan untuk tujuan :
  • Memberikan informasi tentang kemajuan murid. Tes standar dapat digunakan sebagai sumber informasi mengenai prestasi dan kemampuan murid. 
  • Mendiagnosis kekuatan dan kelemahan murid. Tes standar juga memberikan informasi tentang kekuatan dan kelemahan pembelajaran murid. Jika tes standar digunakan untuk keperluan diagnosis, tes diberikan secara individual, bukan secara kolektif. 
  • Memberikan bukti untuk penempatan murid dalam program khusus. Dalam hal ini, fungsi tes standar dapat dipakai untuk membuat keputusan mengenai suatu program yang spesifik, misalnya anak SMA yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, ataupun dalam hal karir. 
  • Memberi informasi untuk merencanakan dan meningkatkan pengajaran atau instruksi. Nilai tes standar dapat dipakai seorang guru dalam membuat keputusan tentang instruksi. 
  • Membantu administrator mengevaluasi program. 
  • Memberikan akuntabilitas. Diharapkan sekolah dan guru dapat bertanggung jawab atas pengajaran muridnya.
Tes berbasis standar adalah tes yang menilai kemampuan/keahlian yang diharuskan dimiliki oleh murid sebelum mereka naik ke kelas berikutnya atau ke jenjang yang lebih tinggi.
Tes berisiko tinggi (high-stakes testing) merupakan tes dengan cara sedemikian rupa yang mengandung konsekuensi penting bagi murid, memengaruhi keputusan seperti apakah murid itu akan naik kelas atau lulus

Kriteria untuk Mengevaluasi Tes Standar
Berikut adalah beberapa kriteria dalam mengevaluasi tes standar, yaitu. 
1. Norma. Dalam memahami kinerja murid individual dalam sebuah tes, kinerja murid dibandingkan dengan kelompok norma, yakni kelompok dari individu yang sama yang sebelumnya telah diberi ujian oleh penguji, seperti tes yang dilakukan secara nasional. Selain norma nasional, tes standar juga mengandung norma kelompok spesial dan norma lokal.  
2. Validitas. Validitas merupakan gamabaran mengenai sejauh mana sebuah tes bisa mengukur hal-hal yang hendak di ukur dan apakah inferensi tentang nilai tes itu akurat atau tidak. Terdapat tiga tipe validitas, yakni.
Validitas isi, yaitu kemampuan tes untuk mencakup sampel (to sample) isi yang hendak diukur.
Validitas kriteria, yaitu kemampuan tes untuk memprediksi kinerja murid saat diukur dengan penilaian atau kriteria lain. validitas kriteri dapat bersifat concurent validity, yakni relasi antara nilai tes dengan kriteria lain yang ada saat ini, dan predictive validity, yakni relasi antara nilai tes dengan kinerja masa depan murid.
Validitas konstruk adalah sejauh mana ada bukti bahwa sebuah tes mengukur konstruk tertentu. Sebuah konstruk merupakan ciri atau karakteristik yang tidak bisa dilihat dari seseorang, seperti inteligensi, personality, atau kecemasan.
 3. Reliabilitas. Reliabilitas merupakan sejauh mana sebuah prosedur tes bisa menghasilkan nilai yang konsisten dan dapat direproduksi. Nilai harus stabil, dependable, dan relatif bebas dari pengukuran. Beberapa pengukuran reliabilitas antara lain.
Test-retest reliability yaitu sejauh mana sebuah tes menghasilkan kinerja yang sama ketika sesorang siswa diberi tes yang sama dalam dua kesempatan yang berbeda.  
Alternate-forms reliability yaitu reliabilitas ditentukan dengan memberikan bentuk yang berbeda dari tes yang sama pada dua kesempatan yang berbeda untuk kelompok murid yang sama dan mengamati seberapa konsistenkah skornya.  
Split-half reliability adalah reliabilitas yang dinilai dengan membagi item tes menjadi dua bagian, seperti item bernomor genap dan ganjil. Nilai pada dua set item itu dibandingkan guna menentukan seberapa konsistenkah kinerja murid di kedua set itu.
Keadilan. Tes yang adil adalah tes yang tidak bias dan tidak diskriminatif serta tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti gender, etnis, dan lain-lain.

TES KECAKAPAN DAN PRESTASI

Membandingkan Tes Kecakapan
Tes kecakapan. Tipe tes yang didesain guna memprediksi kemampuan murid untuk mempelajari suatu keahlian atau menguasai sesuatu dengan pendidikan dan training tingkat lanjut. Yang termasuk tes ini adalah tes kemampuan mental seperti tes kecerdasan.
Tes Prestasi adalah tes yang dimaksudkan untuk mengukur apa yang telah dipelajari atau keahlian apa yang telah dikuasai siswa.

Jenis-jenis Tes Prestasi Standar
1. Survey Batteries. Sebuah survey battery merupakan sekolompok tes pokok persoalan individual yang didesain untuk murid level tertentu. Jenis tes ini adalah tes standar nasional yang bnayak digunakan, seperti tes California Achievement.

2. Tes untuk Subjek Spesifik. Tes ini digunakan untuk menilai keahlian di bidang tertentu, seperti membaca atau matematika dan tes ini menilai suatu keahlian secara lebih mendetail dam ekstensif daripada tes survey battery.

3. Tes Diagnostik. Diagnostic testing terdiri dari evaluasi area pembelajaran spesifik secara relatif mendalam dengan tujuan untuk menentukan kebutuhan pembelajaran spesifik dari murid sehingga kebutuhan dapat terpenuhi melalui instruksi reguler atau remedial.

Ujian Negara Berisiko Tinggi (High-Stakes) Format Ujian Negara. Dari sudut pandang konstruktivis, ujian yang diwajibkan negara ini menggunakan format yang salah, terdiri dari soal pilihan berganda. Sedikit negara yang menggunakan soal ujian negara dalam bentuk esai. Hampir semua negara mengacu pada kriteria kelulusan yang telah ditetapkan untuk murid.

Keuntungan dan Penggunaan Tes Berisiko Tinggi
Efek positif dari pelaksanaan tes ujian negara adalah.
  • Meningkatkan kinerja murid
  • Lebih banyak waktu untuk mengajarkan pelajaran yang diujikan 
  • Ekspektasi tinggi untuk semua murid 
  • Identifikasi sekolah, guru, dan administrator yang berkinerja payah 
  • Meningkatkan rasa percaya diri di sekolah setelah nilai ujian naik
Kriteria terhadap Ujian Negara
Menumpulkan kurikulum dengan penekanan lebih besar pada hafalan ketimbang pada keahlian berpikir dan memecahkan masalah. Ujian negara terkadang lebih berfokus pada pengetahuan dan keahlian daripada keahlian kognitif.
Mengajar demi ujian, yaitu guru berfous mengajarkan materi yang akan diujikan saja.
Diskriminasi terhadap murid dari status sosioekonomi rendah dan minoritas. Hal ini terjadi ketika anak-anak dari kelompok lain tidak memenuhi standar ujian negara yang sangat besar, sementara kelompok lain seperti anak kulit putih memenuhi kriteria tersebut.
Posted by Saras Gusvita on 20.45 with No comments


Pendidikan anak berkebutuhan khusus/ luar biasa adalah pendidikan yang bertujuan untuk membantu peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan atau mental atau kelainan perilaku agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota dalam masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan.

Anak yang berkebutuhan khusus memiliki perbedaan dengan anak normal lainnya dalam hal fisik, psikologis, kognitif atau terhambatnya potensi sosial. Ketidakmampuan atau gangguan yang dialami anak berkebutuhan khusus, meliputi.

a. Gangguan indra
, seperti kerusakan penglihatan atau pendengaran sehingga mereka membutuhkan alat khusus untuk membantu aktivitas mereka.

b. Gangguan bicara dan bahasa, seperti gangguan dalam artikulasi, gangguan kefasihan, gangguan suara. Gangguan bahasa meliputi tiga hal.
  • Kesulitan menyusun pertanyaan untuk memperoleh informasi yang diharapkan.
  • Kesulitan memahami dan mengikuti perintah lisan. 
  • Kesulitan mengikuti percakapan, terutama ketika percakapan itu berlangsung cepat dan kompleks.
Kesulitan tersebut berkaitan dengan gangguan bahasa reseptif maupun ekspresif.
Bahasa reseptif adalah penerimaan dan pemahaman atas bahasa, sehingga anak yang menderita gangguan bahasa sulit
menerima informasi.
Bahasa ekspresif berkaitan dengan kemampuan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pikiran dan berkomunikasi dengan orang lain. terdapat ciri-ciri anak yang mengalami gangguan bahasa ekspresif oral, antara lain.
  • Mereka mungkin tampak malu dan menarik diri, dan punya problem dalam berinteraksi secara sosial.
  • Mereka mungkin menunda memberi jawaban. 
  • Mereka mungkin kesulitan menemukan kata yang tepat . 
  • Pemikiran mereka mungkin ruwet dan tidak tertata, sehingga memusingkan pendengarnya. 
  • Mereka mungkin menghilangkan bagian internal dari suatu kalimat atau informasi yang dibutuhkan untuk pemahaman.
Retardasi mental
Retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ-nya dibawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. Tipe retardasi mental dibagi menjadi tiga, yaitu retardasi ringan, retardasi moderat, dan retardasi berat. Penyebab retardasi mental sendiri disebabkan oleh faktor genetik (down syndrome, fragile X syndrome) dan kerusakan otak (pengaruh dari lingkungan luar, penyakit bawaan dari ibu seperti AIDS, ataupun ibu yang kecanduan alkohol mengakibatkan anak mengalami Fetal alcohol syndrome).

Gangguan Fisik, seperti gangguan ortopedik (gangguan dalam keterbatasan pergerakan atau kurang mamapu mengontrol gerakan karena ada masalah di otot, tulang, atau sendi), gangguan kejang-kejang yaitu epilepsi (gangguan syaraf yang ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang).

Gangguan Perilaku dan Emosional, gangguan ini terjadi terus-menerus seperti agresi, depresi, ketakutan dengan masalah pribadi dan sosial, dan juga berhubungan dengan karakteristik sosio-emosional.

Pelaksanaan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia

Pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah bagian terpadu dari sisitem pendidikan nasional yang secara khusus diselenggarakan bagi peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan atau mental dan atau kelainan perilaku. Pendidikan anak berkebutuhan khusus diselenggarakan pada sekolah khusus di TK (TKLB), SDLB, SMPLB dan SMALB

Beberapa jenis-jenis Sekolah Luar Biasa berdasarkan kategori anak yang berkebutuhan khusus.
  • SLB bagian A adalah anak dengan gangguan tuna netra
  • SLB bagian B adalah anak dengan gangguan tuna rungu (ketidakfungsian pada sistem pendengaran) 
  • SLB bagian C dan C1 adalah anak dengan gangguan tuna grahita/ anak terbelakang 
  • SLB bagian C untuk anak tuna grahita yang mampu didik (IQ = 50-75) 
  • SLB bagian C1 untuk anak tuna grahita yang mampu latih (IQ = 25-50) 
  • SLB bagian D dan D1adalah anak dengan gangguan tunda daksa (anak yang mengalami kelainan fisik, seperti kelainan anggota tubuh yang sulit bergerak atau kelumpuhan). 
  • SLB bagian D untuk anak tuna daksa dengan kecerdasan normal 
  • SLB bagian D1 untuk anak tuna daksa yang memiliki kecerdasan dibawah normal /Mental Retardasi 
  • SLB bagian E adalah anak dengan gangguan tuna laras 
  • SLB bagian G adalah anak dengan gangguan tuna ganda
Sebuah sekolah luar biasa (SLB) dapat didirikan jika memenuhi syarat. Terdapat persyaratan menyelenggarakan pendidikan anak berkebutuhan khusus di Indonesia, antara lain.
  • Minimal terdapat 5 peserta didik
  • Tenaga kependidikan terdiri dari sekurang-kurangnya seorang guru kelas dan seorang tenaga ahli 
  • Menggunakan kurikulum yang telah ditetapkan 
  • Memiliki sumber dana yang menjamin 
  • Memiliki program dan peralatan rehabilitasi 
  • Memiliki tempat dan ruang rehabilitasi 
  • Adanya tersedia buku pelajaran dan peralatan pendidikan khusus Adanya buku pedoman guru dalam mendidik siswa berkebutuhan khusus

Selain syarat didirikannya sebuah sekolah luar biasa, terdapat syarat yang menjadi persyaratan utama seorang anak jika memasuki SLB berdasarkan kategori kebutuhan khusus yang diperlukan anak, yaitu.
  • SLB A : anak tuna netra dengan umur 3-7 tahun asal dan umur tidak melebihi 14 tahun
  • SLB B : anak tuna rungu dengan umur 5 – 11 tahun 
  • SLB C : anak tuna grahita yang mampu didik (IQ 50-75) dengan menunjukkan surat keterangan dari sekolah terakhir pada umur 5,5 sampai dengan 11 tahun 
  • SLB C1 : anak tuna grahita (IQ 25-50) 
  • SLB D : anak tuna daksa dengan kecerdasan normal. Anak akan diperiksa oleh dr umum, dr orthopedi, dr ahli syaraf dan psikolog jika memasumi sekolah luar biasa memiliki umur 3-9 tahun 
  • SLB D1 : anak tuna daksa/ retaradasi mental dengan IQ dibawah normal 
  • SLB E : anak gangguan tuna laras. Anak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri atau pernah melakukan tindak kejahatan . Anak tuna laras atau tuna sosial berusia 6-18 tahun.


Popular Posts

Recent Posts

Pages

Text Widget

Diberdayakan oleh Blogger.

Wikipedia

Hasil penelusuran

Total Tayangan Laman

Like on Facebook

Weather

Breaking News

Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara

Formulir Kontak



Followers

Date

Time

More Services

Blogger templates

Blogroll

About

Blogroll

Popular Posts

Copyright © Psychology Note | Powered By Blogger | Published By Gooyaabi Templates
Design by Carolina Nymark | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com